top of page

THE SCIENCE OF LOVE

Mengapa Jantung Berdebar Saat Melihat 'Si Dia'?


Halo teman-teman !

Pernahkah kalian saat berpapasan dengan seseorang di koridor sekolah, tiba-tiba jantung rasanya ingin copot, tangan terasa berkeringat, dan lidah mendadak kelu, bahkan sulit untuk mengeluarkan kata-kata. Tenang, kamu tidak sedang sakit kok. Kamu hanya sedang mengalami "reaksi kimia" yang luar biasa di dalam tubuhmu!


Banyak yang bilang cinta itu urusan hati, tapi secara sains, cinta sebenarnya adalah hasil kerja sama antara otak dan hormon. Mari kita bedah apa yang terjadi di balik perasaan "baper" itu!


1. Ramuan Kimia di Balik Rasa Suka

Saat kita mulai tertarik pada seseorang, otak kita (terutama bagian hipotalamus) akan melepaskan dopamin. Dopamin ini adalah neurotransmitter yang menciptakan rasa senang dan penghargaan. Inilah yang membuat kita merasa sangat bahagia bahkan hanya dengan melihat notifikasi pesan dari dia.


Selain dopamin, ada juga norepinefrin. Zat kimia ini mirip dengan adrenalin yang membuat jantung berdetak lebih kencang dan telapak tangan berkeringat. Jadi, kalau kamu merasa nervous saat presentasi di depan kelas karena ada "si dia", itu adalah kerja norepinefrin!


struktur hormon/kimia cinta (dopamine, serotonin, norepinephrine).
struktur hormon/kimia cinta (dopamine, serotonin, norepinephrine).

Gambar di atas menunjukkan struktur kimia dari beberapa neurotransmitter yang berperan dalam perasaan cinta, seperti dopamin, serotonin, dan norepinefrin. Tiga molekul ini berperan penting dalam pengalaman jatuh cinta. Dopamin berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan, serotonin memengaruhi suasana hati, sedangkan norepinefrin memicu reaksi fisik seperti jantung berdebar dan telapak tangan berkeringat.


2. Tahapan Cinta Menurut Sains Tahukah kamu?

Dr. Helen Fisher, seorang antropolog biologi, membagi cinta menjadi tiga fase utama:

  • Lust (Nafsu): Didorong oleh hormon testosteron dan estrogen.

  • Attraction (Ketertarikan): Di sinilah dopamin dan norepinefrin bekerja, membuat kita kehilangan nafsu makan dan susah tidur karena terus memikirkan dia.

  • Attachment (Ikatan): Ini adalah fase jangka panjang. Tubuh mengeluarkan hormon Oksitosin (hormon kasih sayang) dan Vasopresin yang membuat kita merasa nyaman dan setia pada seseorang.


Proses biologis ini menunjukkan bahwa perasaan cinta tidak hanya sekadar emosi, tetapi juga melibatkan aktivitas kompleks di dalam otak. Penelitian dalam bidang neurosains menunjukkan bahwa berbagai neurotransmitter dan hormon bekerja bersama untuk menciptakan pengalaman emosional yang kita kenal sebagai jatuh cinta, mulai dari rasa senang, ketertarikan, hingga keterikatan jangka panjang.


3. Mengapa Ada 'Spagetifikasi' Perasaan?

Secara metaforis, beberapa ilmuwan mengibaratkan cinta seperti gaya gravitasi yang kuat karena mampu menarik perhatian dan emosi seseorang. Serta sama seperti teori Black Hole yang kita bahas sebelumnya, cinta juga punya daya tarik gravitasi yang kuat. Jika di luar angkasa ada lubang hitam, di biologi ada yang namanya "The Love Blindness".


Secara ilmiah, saat kita jatuh cinta, bagian otak yang berfungsi untuk menilai secara kritis (prefrontal cortex) justru menurun aktivitasnya. Itulah mengapa kita sering tidak melihat kekurangan orang yang kita sukai. Sains membuktikan bahwa "cinta itu buta" bukan sekadar kiasan!


"Love blindness”, yaitu kondisi ketika perasaan emosional lebih dominan dibandingkan penilaian logis. Studi dalam bidang neurosains menunjukkan bahwa proses jatuh cinta melibatkan sistem penghargaan (reward system) di otak yang juga berkaitan dengan motivasi, emosi, dan perilaku sosial manusia.



Gambar di atas menunjukkan bagian-bagian otak yang terlibat dalam proses emosi dan pengambilan keputusan. Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang jatuh cinta, aktivitas pada area otak yang berkaitan dengan penilaian kritis, seperti prefrontal cortex, dapat menurun. Hal ini membuat seseorang lebih fokus pada perasaan dan sering kali mengabaikan kekurangan orang yang disukai, sebuah fenomena yang dikenal sebagai love blindness.


Jatuh cinta adalah fenomena biologis yang kompleks namun indah. Jadi, kalau nanti jantungmu berdebar kencang saat melihat gebetan di kantin, ingatlah bahwa itu hanya molekul-molekul kecil di tubuhmu yang sedang berpesta!


Tetap semangat belajarnya ya, teman-teman! Karena memahami sains berarti memahami diri kita sendiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa cinta merupakan hasil interaksi antara sistem saraf, hormon, dan proses psikologis yang bekerja bersama di dalam tubuh manusia.


Sumber & Referensi:




Penulis

  1. Talita Azka Nurfitri

  2. Muhammad Putra Nadewa

  3. Aqiyla Maytsa Tsabita

  4. Reihan Ibrahim Aulia Fahriza

  5. Viviana Widya Putri

  6. Farihatul Izzah

  7. Davina Salsabila Putri

  8. Delisa Putri Azahra

  9. Bayu Yoga Pranoto

  10. Rachel Princessa Febrianty


 

 
 
 

Comments


©2022 by Humas KIR SMA Negeri 38 Jakarta

bottom of page